Budaya Masyarakat Tengger

Kalau kita menuju Kawasan Wiata Gunung Bromo, menjelang memasuki pintu masuk kawasan wisata, kita akan disuguhi pemandangan pemukiman yang berderet rapih dan di halam rumahnya terdapat tempat sesembahan untuk ibadat. Bagi pendatang luar mungkin akan teringat suasana kampung di Pulau Bali. Itulah kampung Suku Tengger.
Keberadaan Suku Tengger di sana merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan , terutama yang menggemari wisata budaya.

Wisata Budaya

Wisata Budaya adalah suatu kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh perseorangan atau kelompok menuju tempat tertentu dengan tujuan untuk rekreasi ,memperkaya khasanah bathin atau pengembangan pribadi, dengan memanfaatkan potensi budaya yang ada di suatu wilayah tersebut.

Banyak sekali manfaat yang bisa di dapatkan dari kegiatan wisata budaya seperti :, melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya alam, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jadi diri dan kesatuan bangsa dan mempererat persahabatan antar bangsa,

Suku Tengger di Bromo

kasodo

Tengger adalah desa yang berada di bawah kaki Gunung Bromo. Pada awalnya tahun 100 SM orang-orang Hindu Waisya yang beragama Brahma bertempat tinggal di pantai-pantai yang sekarang dinamakan dengan kota Pasuruan dan Probolinggo. Setelah Islam mulai masuk di Jawa pada tahun 1426 SM dan keberadaan mereka mulai terdesak maka mereka berpindah ke daerah pegunungan Tengger, pada akhirnya mereka membentuk kelompok yang di kenal sebagai Tiang Tengger (Orang Tengger).

Berdasarkan persebaran bahasa dan pola kehidupan sosial masyarakat, daerah persebaran suku Tengger adalah disekitar Probolinggo, Lumajang, (Ranupane kecamatan Senduro), Malang (desa Ngadas kecamatan Poncokusumo), dan Pasuruan. Sementara pusat kebudayaan aslinya adalah di sekitar pedalaman kaki gunung Bromo.

Kebudayaan Masyarakat Tengger

Agama masyarakat suku Tengger adalah agama Hindu. Walaupun orang Tengger beragama Hindu, tetapi tidak melakukan pembakaran mayat seperti orang Hindu di Bali. Dalam perkembangan sejarahnya, kemudian datanglah orang=orang pendatang yang beragama Islam, Budha, Kristen, Katholik, Sampai pertengahan abad 19 kebanyakan desa-desa Suku Tengger di wilayah yang lebih rendah dari 1400m dikuasai oleh pendatang yang beragama Islam.

Upacara Keagamaan Masyarakat Suku Tengger

Ada beberapa upacara keagamaan yang d laksanakan atau dirayakan oleh masyarakat Suku Tengger. Yaitu :

1. Pujan Karo ( Bulan Karo )

yang merupakan Hari Raya terbesar ,dengan tujuan mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati asal-usul manusia, untuk kembali pada kesucian, dan untuk memusnahkan angkara murka.

2. Pujan Kapat (Bulan Keempat)

Upacara kapat jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun saka disebut pujan kapat, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin yang dilakukan bersama- sama disetiap desa (rumah kepala desa) yang dihadiri para pini sepuh desa, dukun, dan masyarakat desa.

3.Pujan Kapitu (Bulan Tujuh)

Pujan kapitu (bulan tujuh), semua pini sepuh desa dan pandita dukun melakukan tapa brata dengan pati geni (nyepi) satu hari satu malam, tidak makan dan tidak tidur. Selanjutnya puasa mutih (tidak boleh makan makanan yang enak), selama satu bulan penuh. Setelah selesai ditutup satu hari dengan pati geni. Pada bulan kapitu ini masyarakat suku tengger tidak diperbolehkan mempunyai hajat.

4. Pujan Kawolu

Upacara ini jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tanggal 1 tahun saka. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang. Pujan kawolu dilakukan bersama dirumah kepala desa.

5 Pujan Kasangan

Upacara ini jatuh pada bulan kesembilan (sanga) tanggal 24 setelah purnama Tahun Saka. Upacara diawali oleh para wanita yang mengantarkan sesaji kepada kepala desa, untuk dimantrai oleh pendeta, selanjutnya pendeta dan para sesepuh desa membentuk barisan, berjalan mengelilingi desa. Tujuan mengadakan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan masyarakat tengger. Masyarakat bersama anak – anak keliling desa membawa alat kesenian(kentongan) dan obor.

6. Kasada (Bulan Dua Belas)

Upacara ini dilaksanakan setahun sekali oleh Suku Tengger yang mendiami 41 desa pada 4 Kabupaten di Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan. Dilaksanakan pada pukul 24.00 WIB mereka bergerak mulai di depan rumah Pendeta, dan sampai ke laut pasir di Pura Agung Poten kira-kira pukul 04.00 WIB. Selanjutnya dilakukan ritual di Pura Poten yang dilanjutkan menuju kawah gunung Bromo yang berjarak 2 km untuk melakukan ritual sesaji yang terdiri dari dua unsur penting, yaitu Kepala Bungkah dan Kepala Gantung. Kepala bungkah itu artinya buah-buahan yang berasal dari tanah seperti kentang dan ketela, serta Kepala Gantung yaitu buah-buahan yang bergantung.

7. Upacara Unan-Unan

Upacara ini di adakan hanya tiap lima tahun sekali. Unan-unan adalah tahun panjang (seperti tahun kabisat) melakukan upacara ngurawat jagat, mensucikan hal-hal yang tidak baik dengan mengorbankan kerbau.

Rangkaian upacara keagamaan tahunan maupun lima tahunan, menjadi perhatian besar para wisatawan dalam negri maupun manca negara. Jadwal dan agenda upacara keagamaan sudah menjadi incaran wisatawan untuk menyusun jadwal perjalanan menuju Bromo. Mereka ingin ikut merasakan bagaimana pemandangan / atmosfir perpaduan antara indahnya kawah Bromo dan magisnya upacara Kasodo.

Demikian ulasan tentang Wisata Budaya Suku Tengger Bromo, di pandang dari segi agama dan upacara keagamaan. sampai ketemu di tulisan berikutnya tentang budaya Suku Tengger dari sisi yang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s